Rabu, 13 Agustus 2014

Asal Usul Nenek Moyang Kerinci

Salam Hangat Para Pencinta Blogger Kembali Lagi Dengan Saya Agung Muhamad Reza
Nah All Karna gua Udah Lama Gak Posting Niee Gua posting Lagi Tentang ASAL USUL NENK MOYANG KERINCI .. Semoga Bermanfa'at ...


ASAL USUL NENEK MOYANG KERINCI
Berbicara asal usul uhang kincai,menurut Umar Ali ( 70 ) mantan Depati Atur Bumi Hiang mengungkapkan bermula dari lembaran sejarah Iskandar Zulkarnain Menikah dengan Zailun melahirkan empat orang anak, yaitu :

Maharajo Alif di negeri RUM
Maharajo Dipang di negeri China/Jepang
Maharajo Dirajo di Minangkabau ( Pariangan Padang Panjang)
Indarjati di Pariangan Tinggi ( Hiang Tinggi)


Indarjati menikah dengan Indi Jelatah melahirkan keturunan 2 orang yaitu
1.Perpatih nan Sebatang Tinggal di pariangan padang panjang
2. Indarbayo.ikut ke luhak alam kerinci
Indarjati dan anaknya Indarbayo berlayar pula keluhak alam kerinci sedangkan perpatih nan Sebatang karena asik pula bermain dengan rekannya, ia tak ikut serta, kemudian di persiapkan alat untuk berangkat, pertama payung sekaki, tombak nan sebuah, keris nan satu, di bawa pula kambing nan seekor.

Senin, 21 April 2014

Pulau tengah , Kerinci lautan api

Sugai Penuh. Bangsa yang besar adalah bangsa yang pandai menghargai jasa jasa dan perjuangan yang dilakukan para pejuang / pahlawan  yang  dengan  rela telah  mempertaruhkan segenap jiwa dan raga  demi membebaskan tanah air dari  ”  Belenggu” penjajah.
Seperti daerah daerah lain di nusantara, alam Kerinci pernah mengalami penderitaan akibat dari kekejaman penjajah Belanda dan Jepang yang telah menjajah tanah air dalam waktu cukup panjang.
Dalam  perjuangan  mempertahankan bumi alam Kerinci dari penjajahan Belanda, ribuan rakyat tidak berdosa telah menjadi korban kekejaman imprealis Belanda, diantara para tokoh pejuang tersebut terdapat nama  nama tokoh pejuang antara lain  Kasib Gelar Depati Parbo, Bilal Sengak, H.Ismail. H.Bakri Depati Simpan Negeri, M.Judah  Gelar Depati Santiudo Pamuncak Alam, H.Sultan,Depati Gayur,H.Siam  Gelar Depati Atur Bumi, H.Syukur H.Mat Serak, Hj.Fatimah
Di wilayah Kerinci hulu dikenal  memiliki hulubalang hulubalang yang tangguh antara lain.H.M.Yunus dari Semurup,H.Rakhman dan H.Makhmud dari Kemantan,H.Sultan Thaha Rio Bidi,Imam Berkat,Depati Mat Syarief dari Belui dan Sekungkung, H.Bagindo Sutan Gelar Depati Kepalo Sembah, H.Mamin,Gelar Depati Negaro Negari, Ijung Pajina, H.Mohd.Kari Dari Semurup, dan beberapa tokoh pemimpin perjuangan yang tersebar hampir disetiap pelosok bumi Ranouh Alam Kincai.
Perjuangan para hulubalang dan  perjuangan pemuda sepanjang perjalanan bangsa Indonesia memang  telah tercatat dengan tinta emas dalam memori  kolektif  bangsa Indonesia, pada saat bangsa Indonesia masih berada dalam cengkraman kolonialisme fisik, para pemuda telah  tampil dengan watak  progresif  dan  revolusioner  guna mengobarkan  perlawanan terhadap kaum Kolonial, Begitu puladi era kemerdekaan, para pemuda selalu mengambil posisi sebagai pembaharu dalam menggerakkan perubahan.

Dalam  kontek  perjuangan di  alam Kerinci,  para  para hulubalang pada masanya telah  menunjukkan semangat  kejuangan yang tinggi untuk melepaskan negerinya dari cengkraman Kolonial Belanda,  para hulubalang dan para pejuang di alam Kerinci telah mengorban darah air mata dan nyawa untuk memerdekakan rakyat dari belenggu penjajahan.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa  pertempuran yang terjadi adalah rentetan dan jalinan sejarah perlawanan melawan Kolonial Belanda,pada awal kedatangannya di Indonesia Belanda hanya bermaksud untuk berdagang, dan pada akhirnya berubah ingin menguasai  alam dan hasil bumi nya yang  memiliki potensi besar, gelagat  dan niat  licik  kolonial  untuk menguasai  tidaklah  dibiarkan oleh bangsa Indonesia,pada masa itu terjadi perlawanan dan pertempuran melawan Belanda yang bersifat lokal dan kedaerahan dengan satu tujuan tidak ingin di jajah.

Pertempuran yang terjadi di alam Kerinci yang dimulai sejak tahun 1901 merupakan peperangan  rakyat Kerinci dalam mempertahankan  Agama, Adat dan Negeri, rakyat Kerinci bersama para pejuang/ hulubalang  hulubalang  telah  rela  mengorbankan jiwa dan raga untuk membela hak dan Kemerdekannya  yang dirampas oleh Kolonial Belanda.

E.J.De Sturler dalam tesisnya (et Grend Gebied van Nerderlansch Oost Indie ini Perband met Tractaten met Spanje,Englend en Portugal (1861) dan terakhir disitir oleh Prof.DR.Utreht SH, dalam bukunya “Sejarah Hukum Internasional di Bali dan Lombok” menyebutkan jIka kita melihat kilas balik kebelakang sebelum Belanda  menjajah  rakyat alam Kerinci,( daerah  alam Kerinci yang saat ini terdiri darin dua daerah  otonum Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci,)

Daerah yang berada di kawasan puncak Andalas Pulau Sumatera merupakan sebuah kerajaan yang berdiri sendiri seperti Aceh dan Kwantan di Pulau Sumetara. Kerajaan Kerinci berbatas  disebelah  Utara dengan Kerajaan Minangkabau.di  Sebelah Timur  dengan Kerajaan Jambi dan disebelah Selatan,  dengan kerajaan  Sriwijaya. Pada masa itu Pemerintahan di alam Kerinci dipegang  oleh  Depati Empat Delapan Helai Kain, Pegawai Rajo Pegawai Jenang,Suluh Bindang Alam Kerinci yang berpusat di Sanggaran Agung dan tempat pertemuan ( Musyawarahnya) di Hamparan Besar Tanah Rawang. Dalam sistim Pemerintahan di AlamKerinci – Para Depati inilah yang memenggalputus,memakan habis didalam setiap pemalasahan,dalam menjalankan tugasnya Depati di bantu oleh Ninik Mamak atau para Pemangku Adat.

Dalam  catatan  sejarah dan perjuangan  rakyat alam  Kerinci  juga  disebutkan  bahwa  pertempuran  pertama dikawasan  “ Renah Menjuto ”  merupakan  pertempuran  hebat yang tidak seimbang,  serdadu   Belanda dengan kekuatan personil   120  orang   dengan didukung  persenjataan lengkap  berhasil  dipukul mundur  oleh  para hulubalang  dipimpin ” Kasib Gelar Depati Parbo”  dengan hanya berkuatan  12 orang . Pada  pertempuran di  Renah  Menjuto  tercatat   50 orang serdadu Belanda  dan beberapa orang  opsir  dan perwira  tewas, dipihak  pejuang tercatat 2 orang gugur sebagai suhada dan pahlawan  Kusuma Bangsa.Bagi pihak Belanda kekalahan tersebut merupakan sebuah tamparan keras yang memalukan, Para hulubalang hulubalang  sebagai sosok  pejuang tangguh  dengan gagah dan berani mampu memukul mundur serdadu Belanda.

Kehadiran Belanda yang berniat menjajah alam Kerinci dan merusak tatanan yang telah terbangun sejak ratusan tahun mendapat tantangan dari segenap lapisan masyarakat dan para pemangku adat, perlawanan dan pertempuran terjadi hampir disetiap dusun di alam Kerinci, dan dalam catatan  sejarah perjuangan rakyat alam Kerinci, pertempuran di Pulau Tengah merupakan pertempuran  terbesar dan memakan waktu yang cukup lama – dengan merenggut  korban jiwa   paling banyak  dari kedua belah pihak

Pada pertempuran di Renah Menjuto,  seorang  hulubalang dari Sungai Penuh ikut bergabung berperan bersama Depati Parbo dalam menghadapi serdadu Belanda, Hulubalang   bernama M. JUDAH GELAR DEPATI SANTIUDO PAMUNCAK ALAM, sehari hari dipanggil “Apouk Gulun” ( Bapak Gulun),  tokoh ini merupakan  sahabat kental  Kasib Gelar Depati Parbo,sebuah catatan  menyebutkan bahwa   “ Kasib ”  memperdalam ilmu pengajian ( Tauhid) dan ilmu kebatinan pada M.Judah , kedua pendekar dari Alam Kerinci  sempat  merantau  bersama ke Batang Asai Kabupaten Sarolangun dan akhirnya  berjuang bersama sama menghadapi kolonial Belanda pada pertempuran di “Renah Menjuto”

Pasca pertempuran di Pulau Tengah dan mundurnya pejuang H.Umar seorang tokoh pejuang dari Jambi yang bergerilya di alam Kerinci, otomatis perjuangan rakyat Kerinci terhadap Belanda berangsur surut, Belanda  dengan  kekuatan  personil yang besar ,persenjataan lengkap dan /modern menanamkan kukunya di bumi alam Kerinci,  sejak tahun  1906  hingga   tahun 1914 nyaris tidak terjadi perlawanan berarti,  dan baru pada tahun 1914 terjadi insiden antara Pemerintah Belanda (Kontler) dengan  H.Bakri  Depati Simpan Negeri yang secara kesatria menantang kebijakkan pemerintah  Belanda yang memungut pajak yang mencekik rakyat,memang pada  awalnya H.Bakri  Gelar Depati Simpan Negeri terpaksa mengikuti perintah perintah kontler Belanda yang “Keterlaluan”  dalam menjajah rakyat Kerinci, puncak dari kesabarannya H.Bakri  Depati Simpan Negeri dengan semangat perang jihad Fisabilillah rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk mempertahankan prinsip anti dijajah dan untuk membela rakyat Kerinci yang di zalimi penjajah Belanda.

Oleh karena itu, kita semua terutama  Generasi Muda Indonesia  wajib  untuk  melestarikan  Kesatuan dan persatuan bangsa, dengan menggali kembali fundamen  Negara kita sebagai  Negara kebangsaan dan Negara Pesatuan dan pesan yang harus digelorakan kepada Generasi penerus masa sekarang untuk peran kesejarahannya adalah bagaimana  mempererat  persatuan dan kesatuan Bangsa dalam  Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Catatan yang penulis Himpun mengungkapkan  pada  awal pertempuran rakyat  di Alam Kerinci menghadapi kolonial Belanda, daerah ini banyak melahirkan tokoh tokoh pejuang dan hulubalang  perkasa, diantara  pejuang  yang  dikenal pemberanu terdapat seorag  ulama terkemuka di Pulau Tengah  dan  mendapat predikat se bagai Imam Perang dan menjadi Komandan pertempuran  yang disebut dengan Perang Sabillah yakni mempertahankan  Keyakinan agama dan  bertekat hingga  tumpah darah terakhir  mempertahankan  negeri leluhur dari  usaha pendudukan yang dilakukan penjajah kolonial Belanda.

Bersama  para  para Hulubalang dan tokoh tokoh adat  H.Ismail memprakarsai  membangun  5 buah Benteng Pertahanan  yakni : Benteng pertahanan pertama berada daerah Telaga  antara Pulau Tengah­Jujun,benteng  Ini  dibawah   pimpinan Bilal Sengak dengan beberapa tokoh pejuang yang siap tempur dan Berani mati. Benteng pertahanan di Koto putih dengan hulubalang hulubalang dan Pemuda pilihan dipimpin H.Sultan dan didalam Benteng ini  terdapat seorang orang tua bernama H.Mat Serak,Benteng ketiga berada di Lubuk Pagar yang dipimpin oleh H.Husin dibantu Mat Pekat Benteng keempat merupakan Benteng pertahanan yang berada di Sungai Buai dibawah kepemimpinan  Depati Gayur dan H.Syukur, Benteng kelima dipimpin seorang wanita bernama Fatimah Jura,Benteng ini berada dipinggir  danau merupakan  benteng pertahanan wanita..

Khusus Benteng  pertahanan  yang dibangun di kawasan pinggiran danau dibangun dari bambu yang   telah diisi batu dan  ditanam rapat disetiap muara.di Benteng ini  semua wanita tanpa kecuali termasuk janda dan gadis harus  bertahan  di dalam benteng , kecuali  kaum wanita yang memiliki anak usia    Balita yang diizinkan tinggal didalam dusun.Di Pulau Tengah dikenal banyak memilki Hulubalang hulubalang, diantara hulubalang yang pemberani terdapat nama nama seperti H.Mesir , Depati Gento Menggalo, Depati Mudo, H.Syafri. Sementara para hulubalang berlatih ilmu beladiri, sebagian diantara  penduduk  Dusun Baru dan KotoTuo Pulau Tengah menggali Lobang sebagai tempat persembunyian dan tempat perlindungan bagi anak anak dan wanita, lobang lobang pengamanan tersebut juga dimanfaatkan untuk lumbung  menyimpan perbekalan makanan.

Beberapa Benteng pertahanan ada yang terbuat dari batu yang  diperkuat dengan senjata lenting yang terbuat dari bambu dan dipasang ranjau jebakkan. Negeri Pulau Tengah memang sangat strategis dan merupakan salah satu basis perjuangan gerilya para pejuang dan  Hulubalang, dibelakang dusun terdapat bukit bukit yang penuh dengan  hutan lebat, air sungai mengalir bening dicelah bebatuan yang licin.dan dihadapan bukit terbentang danau Kerinci. Jalan jalan di daerah benteng  pertahanan saat itu  sangat sulit dilewati dan disepanjang areal perbukitan  dijaga ketat oleh para hulubalang dan pemuda pejuang yang tangguh.

Negeri Pulau Tengah yang terdiri dari beberapa dusun merupakan kawasan paling strategis bagi para pejuang untuk melakukan perjuangan dibawah komandi Iman Perang  bersama segenap hulubalang  para serdadu Belanda dalam berbagai peristiwa pertempuran  mampu  menggegerkan pertahanan musuh

Tercatat dalam memori sejarah bahwa  Pasukan Kolonial Belanda  sangat  kewalahan dalam menghadapi para hulubalang dan pejuang, rakyat Pulau Tengah baik tua muda, pria wanita yang merasa cukup umur tanpa diperintahkan terjun lansung ke medan peperangan.

Hampirdisetiap jalan dan titik vital selalu dijaga oleh para hulubalang hulubalang.  Medan peperangan di kawasan Pulau Tengah sangat menantang, para hulubalang dari dusun dusun lain di luar Pulau Tengah yang belum puas menghadapi serdadu Belanda di dusun mereka masing masing,  dengan semangat berkobar datang ke Pulau Tengah untuk bergabung bersama  para  hulubalang Pulau Tengah berperang menghadapi Belanda yang merupakan musuh bersama.

Pada saat itu penduduk Negeri Pulau Tengah hanya berjumlah 2.000 orang, jumlah ini semakin bertambah dengan kehadiran ratusan hulubalang  yang berdatangan dari setiap penjuru dusun di alam Kerinci.Pembangunan benteng benteng pertahanan di Pulau Tengah berlansung  selama 1 Bulan, setelah merasa cukup kuat  Imam perang Pulau Tengah H.Ismail mengirimkan  2 orang utusan untuk menghadap Komandan serdadu Belanda yang bermarkas di Rawang  untuk menyampaikan bahwa  hulubalang  dan pejuang pejuang Pulau Tengah  menyatakan secara terbuka siap  melawan Belanda. Mendengar ucapan utusan dari Pulau Tengah, maka Overste Bense mengirim surat kepada pimpinan pejuang  di Pulau Tengah yang intinya memerintahkan agar senjata segera dikumpulkan dan diserahkan kepada  Belanda, kontan para pejuang dalam suratnya dengan tegas  menolak  ntuk menyerahkan senjata kepada Belanda.

Catatan Sejarah   mengungkapkan  Serdadu Belanda mulai melancarkan serangan dari tiga jurusan. Jurusan pertama bergerak dari  Sandaran Agung terus ke Jujun, pasukkan  penjajah Belanda membidik  sasaran ke Benteng Telaga yang dibawah pimpinan Bilal Sengak. Dari arah rawang Belanda menyerang dua benteng pertahanan yakni benteng  Sungai Buai dan Lubuk Pagar masing masing dibawah pimpinan Depati Gajur dan H.Syukur dan H.Husyin bersama Mohd.Pekat.

Budayawan dan Sejarawah Kerinci Iskandar Zakaria  dalam wawancara dengan penulis (3/3­2012) menyebutkan Pertempuran antara pasukan Pejuang yang melibatkan  para hulubalang, alim ulama, pemuka adat, pria dan wanita dewasa berhadapan  dengan pasukan Belanda di Pulau Tengah merupakan perang terbesar dan memakan waktu yang  cukup lama serta menelan korban jiwa beratus ratus masyarakat tak berdosa terutama  anak anak balita dan wanita lanjut usia. Catatan sejarah menyebutkan pertempuran di Pulau Tengah memakan waktu lebih 6 bulan, dimulai pada tanggal 27 Mei bulan Mei 1903 dan berakhir  November 1903.

Pertempuran antara pejuang Pulau Tengah dan Serdadu Belanda  pada prinsipnya terjadi setelah diawali dengan undangan untuk berperang  yang dlakukan oleh pihak Pejuang Pulau Tengah kepada pihak  Belanda. Tokoh tokoh adat, hulubang serta masyarakat Pulau Tengah merasa sangat tersinggung atas sikap Belanda yang mengejek orang Pulau Tengah

Para pejuang dan masyarakat  Pulau Tengah yang terdiri dari Dusun Baru, Koto Tuo dan Koto Dian sebelum mengundang Belanda berperang terlebih dahulu mengadakan rapat di Mesjid Tuo Pulau Tengah. Rapat dipimpin H.Ismail yang baru kembali dari Kedah­Malaya (sekarang dikenal sebagaiMalaysia). H.Ismail dengan orasinya yang  berapi­api membakar semangat masyarakat dan Pejuang Pulau Tengah agar berjuang hingga tetes darah penghabisan demi mempertahankan agama dan Tanah Air. Orang orang  Kafir dan kaum Musrik yang ingin menjajah dan merampas kedaulatan Negeri harus Ditumpas melalui  Perang Sabillihhah atau “melakukan “Jihad”

Pihak Belanda yang menerima tawaran dan undangan berperang yang ditawarkan oleh Pejuang dan Hulubalang Tengah menyambut  dingin tawaran itu, namun Overste  Bense justru membalas surat dari para pejuang Pulau Tengahyang intinya meminta agar para pejuang Pulau Tengah agar meletakkan senjata dan bekerja sama dengan Belanda.  Akan tetapi pihak pejuang tidak menggubris surat yang disampaikan  oleh Overste Bense dan H.Ismail yang saat itu memimpin para pejuang  kembali membalas surat yang intinya menolak permintaan Belanda, rakyat dan Pejuang Pulau Tengah siap mempertaruhkan jiwa dan raga  demi menjaga  dan melindungi negeri Pulau Tengah dan alam Kerinci..

Mendengar jawaban itu Belanda   mempersiapkan tentaranya untuk bersiap  menyerang Pulau Tengah. Sebuah catatan menyebutkan  Pihak  Belanda memberikan hadiah kepada 2 orang penduduk pribumi untuk  membantu Belanda menyelidiki jalan yang baik untuk menyerang Pulau Tengah. Perjalanan dillakukan dari dua arah  yakni dari arah utara melalui jalan darat melintasi kumun –Semerap langsung menuju sasaran. Dari arah timur melalui jalur sungai  menggunakan perahu melintasi Danau Kerinci.

Pertempuran di Pulau tengah  antara para hulubalang dan pejuang dengan  pihak Belanda memiliki beberapa latar belakang yang komplik dan berbeda dengan kisah pertempuran di daerah lainnya. Peperangan yang terjadi di daerah Pulau tengah antara lain disebabkan karena para pejuang di Pulau tengah merasa terhina oleh ejekkan serdadu Belanda yang mengejek  dengan  kata kata ”orang Pulau tengah orang penakut dan dianggap sebagai  perempuan  dari Lolo”, ejekkan inilah yang merupakan salah satu factor pemicu utama yang mendorong para hulubalang dan masyarakat  merasa tertantang dan ingin membuktikan siapa yang lebih jantan dari mereka

Penyebab lain marahnya orang Pulau tengah karena Belanda  karena telah memerangi rakyat Kerinci dan ingin menjajah bumi Alam Kerinci, banyaknya korban yang berjatuhan di medan pertempuran di sejumlah dusun dusun di Alam Kerinci, serta perbedaaan agama merupakan pemicu yang ikut menyulut api peperangan di Pulau Tengah.

Para hulubalang dan tokoh masyarakat Pulau tengah yang tergabung dalam kaum empat jenis yang saat itu berasal dari dusun baru, dusun  koto tuo dan dusun koto Dian melakukan rapat yang dipusatkan di dalam masjid kuno pulau tengah dengan  dipimpin Haji Ismail, menghasilkan 3  keputusan penting yakni: Hulubalang dan pejuang serta masyarakat Pulau Tengah mengundang Belanda untuk berperang di         Pulau Tengah. Memerintahkan semua komponen masyarakat termasuk Ulama, Tokoh adat, Hulubalang,Para  pemuda, serta segenap masyaraKat yang berada di Pulau Tengah untuk angkat senjata dengan terlebih dahulu melakukan persiapan untuk keperluan perang  antara lain menyiapkan senjata  pedang, senjata api rakitan, keris,jerat lenting, membangun Benteng  pertahanan,mempersiap perbekalan berupa  makanan dan membuat lubang lubang perlindungan    bagi wanita, anak anak dan manula.Seluruh masyarakat di Pulau Tengah yang meliputi masyarakat Dusun beserta  para hulubalang,Tokoh  adat , Ulama serta anak jantan dan anak betino mengikrarkan Sumpah sanggup    berperang dengan Belanda  hingga tetes darah terakhir.

Penulis  (23/ 3­2012) bersama beberapa tokoh masyarakat Pulau Tengah antara lain  Rivai dan Harun Nahri melakukan kunjungan ke  Benteng Pertahanan Pejuang Pulau Tengah di Lubuk Pagar yang dipimpin Haji Husin dan Mat Pekat, Benteng yang berada di lereng bukit yang terjal ini dijadikan sebagai markas pertahanan untuk menangkis serangan musuh dari arah utara (Semerap) Benteng ini  pada masa pertempuran sangat strategis dan sulit ditembus oleh pihak musuh.







Dari arah  Benteng  Lubuk  Pagar para pejuang dengan leluasa menjebak serdadu Belanda dan dengan  taktik perang  gerilya berhasil memukul mundur musuh. Sementara senjata “Jerat Lenting “ yang  terbuat dari bambu dengan cara membengkokkan ujungnya sampai  ke tanah dan diberi tali, namun ketika musuh mendekat, maka talinya dilepaskan dan ujung bambu yang diberi senjata akan melenting dan mengenai  musuh.

Senjata lentingan ini menurut tokoh masyarakat setempat mampu menewaskan puluhan serdadu Belanda. Pihak pejuang dan hulubalang juga melakukan pembangunan benteng pertahanan dari bambu yang disusun batu dan tanah yang diberi lubang tempat mengintai musuh,di sepanjang Sungai Buai dan dipinggiran danau Kerinci dipasang ranjau dari bambu runcing, dan ternyata pertahanan ini tidak dapat diterobos oleh serdadu Belanda, puluhan serdadu serdadu Belanda tewas  dengan mayat bergelimpangan di sepanjang Sungai Buai  yang muaranya berada di pinggiran Danau di kawasan dusun baru.

Dalam sejarah perjuangan dan pertempuran yang terjadi di basis­basis perjuangan di nusantara, hanya basis perjuangan di Pulau Tengah  Alam Kerinci yang agak “uniek”. Pertempuran yang terjadi di daerah ini  diawali oleh “Undangan Perang” yang disampaikan tokoh pejuang­Hulubalang dan disampaikan secara khusus oleh utusan khusus Panglima  Perang Pulau Tengah H.Ismail  yaitu Ali Akbar Gelar Rio Indah dan Haji   Iskak, berisikan “Rakyat Pulau Tengah tidak mau tunduk “ kepada Pemerintahan Belanda, dan siap untuk melakukan perang di Pulau Tengah.

Surat yang dibawa utusan khusus (Kurir) dibawa ke Rawang dengan  maksud diberikan kepada Tuanku Regen yang oleh pejuang dianggap  telah berkhianat terhadap perjanjian Sitinjau Laut, namun pada saat surat akan diserahkan  di Rawang, ternyata Tuanku Regen sedang berada di Daerah Semurup untuk mengatur siasat memadamkan api perlawanan  rakyat di Siulak.

Di semurup surat undangan Perang disampaikan langsung  kepada Tuanku Regen, oleh Tuangku Regen surat tersebut selanjutnya diserahkan kepada pihak penguasa Belanda, dan pihak Belanda yang menerima surat undangan Perang  merasa heran, sebab selama ini   jika Belanda ingin menduduki suatu daerah pihak Belanda langsung melakukan penyerangan, tapi kali ini justru mereka yang diundang untuk   melakukan pertempuran

Menanggapi surat undangan perang yang disampaikan Panglima   Perang Pulau Tengah, awalnya “ Overste Bengse” menanggapi secara   dingin, bahkan pihak Belanda justru membalas surat yang intinya”agar  masyarakat Pulau Tengah untuk tunduk kepada Belanda  dan segera menyerahkan semua persenjataan kepada pihak Belanda. Namun setelah  surat balasan dari Belanda diterima oleh Haji Ismail, kembali H.Ismail  menyurati Belanda yang intinya ”Pulau Tengah tidak akan meletakkan senjata, Pulau Tengah tidak akan menyerah kepada Belanda, Rakyat Pulau Tengah siap berperang demi mempertahankan tanah air.

Mendapat jawaban dari H.Ismail, maka pihak Belanda mengirimkan pasukan dan perlengkapan perang untuk menyerang Pulau Tengah, Belanda memperalat dua orang penduduk pribumi untuk menjadi  penunjuk jalan untuk melakukan penyerangan ke Pulau Tengah, kedua penduduk pribumi itu diperalat dengan di iming imingi akan diberi  hadiah oleh Belanda Iskandar Zakaria, sejarahwan dan budayawan Alam Kerinci mengemukakan  bahwa pada tanggal 27 Mei 1903, Belanda mulai  melancarkan   serangan  dari dua arah dan jurusan secara serentak. Peperangan di  kawasan ini berlangsung seru, sangat sulit bagi Belanda untuk menembus benteng pertahanan rakyat dan pejuang Kerinci, dengan kekuatan maksimal Belanda terus menggempur pertahanan para pejuang  namun dapat dipatahkan.

Puluhan bala tentara Belanda tewas akibat  jerat lentingan yang dipasang pejuang dan rakyat dibelakang lawang  (pintu masuk) saat memasuki lawang yang terbuka sedikit dan Belanda berkumpul di daerah itu, dan tanpa mereka duga, para pejuang yang terdiri dari hulubalang,alim ulama dan rakyat memutuskan tali penahan  lentingan, akibatnya pasukan penjajah Belanda tewas terhempas oleh  lentingan bambu.

Karena merasa kewalahan pasukkan Belanda yang   bersenjata lengkap pontang panting mundur menyelamatkan diri masing masing menuju titik aman. Meski telah jatuh banyak korban namun pihak Belanda tetap keras kepala dan berusaha untuk menaklukkan Pulau Tengah, Belanda kembali mendatangkan bala bantuan dan persenjataan modern terdiri dari meriam, bayonet dan  senjata  senapang laras panjang, bersama bala bantuan yang didatangkan dari Padang, Belanda untuk kedua kalinya kembali melancarkan serangan dengan  sasaran Lubuk Pagar  menuju Dusun Baru dan  kearah Benteng Telaga. Pada jam 6.30 pagi Belanda melakukan penyerangan ke Benteng Telaga kali ini serangan Belanda dapat dilumpuhkan oleh para hulubalang dan para pejuang, dan menimbulkan banyak korban jiwa dari pihak rakyat dan pejuang telah gugur 3 orang.

Keesekoan harinya untuk membalas kekalahan kedua, Serdadu Belanda kembali menggempur markas benteng pertahanan pejuang.saat pagi pagi buta sekitar jam04.00­06.30. Belanda melakukan serangan  fajar dan menimbulkan korban yang sangat besar dari pihak Belanda, lebih 300 orang serdadu Belanda tewas bergelimpangan, sementara dari  pihak pejuang dan rakyat tercatat 31 orang  yang gugur.Belanda dengan keserakahan dan akal liciknya baru berhasil merampas dan  menduduki benteng Telaga setelah Belanda berhasil menewaskan  pimpinan perang “Bilal Sengak”  beserta  2 orang Hulubalang yakni  H.Abdul Kasim dan H.Bilal Pakih, ketiga orang tokoh pejuang ini gugur akibat terkena peluru yang ditembakan musuh.

Pasukan Belanda kembali melakukan serangan  di Kota putih yang merupakan pintu gerbang masuk ke Pulau Tengah, para pejuang  dengan gigih sampai tetes darah terakhir dengan kekuatan yang ada berusaha mempertahankan Kota Putih, dan dalam pertempuran selama satu hari jatuh 2 orang korban  yakni hulubalang “Malin Malelo dan H.Yakin”, Pasukkan Belanda setelah  mampu menewaskan kedua orang hulubalang melanjutkan perjalan ke gunung raya, mereka melewati dusun Benik­ dusun Jujun dengan maksud  menggempur markas pertahanan rakyat di sebelah utara  Di pihak lain pasukan Belanda yang datang dari jurusan Lempur, dan Semurup naik ke Bukit Betung dan sebagian dari pasukan Belanda  melanjutkan perjalanan ke Gunung Raya dan bergabung dengan pasukan yang dating dari Jujun, beberapa diantaranya menuju sungai Buai,dan di daerah ini terjadi pertempuran, pada pertempuran ini seorang pemuda Mat Saleh dan H.Husin dengan pedang terhunus melakukan penyerangan terhadap pasukan Belanda  secara membabi buta.

Peperangan di Sungai Buai berlangsung selama 3 jam, pada pertempuran ini puluhan serdadu Belanda tewas ditangan para hulubalang dan pejuang, meskipun pada pertempuran itu Mat Saleh gugur sebagai  syuhada bangsa. Di daerah Pulau Tengah pertempuran berlangsung selama 3 bulan, pihak serdadu Belanda merasa kewalahan menghadapi  para pejuang  asal Pulau Tengah  Kerinci, pada pertempuran ini ratusan serdadu Belanda dan 4  orang Opsir Belanda Tewas, pada masa  pertempuran antara Belanda dan pejuang Pulau Tengah tercatat nama seorang Hulubalang  bernama “Rio Indah” yang bertugas sebagai kurir besar keluar dusun.

Melihat Kezaliman dan kebiadaban yang dilakukan oleh serdadu  Belanda, para alim ulama, tokoh tokoh adat menunjukkan sikap per­lawanan, mereka dengan semangat jihad  Fisabilillah  menghadapi Belanda, pertempuran sempat terhenti karena pihak Belanda menunggu  kedatangan bala bantuan dari Padang, sementara hulubalang, rakyat termasuk warga/tokoh dari Siulak (Depati Intan), Rawang dan Kerinci  bahagian Hulu dengan siap siaga dan persenjataan pedang dan senjata  sederhana mengintai kedatangan pasukan Belanda di puncak  “Bukit  Gedang”. Pada saat yang sama, di “Bukit Sitinjau Laut dan Ranah Manjuto terjadi pertempuran antara Belanda dan pasukan yang dipimpin Depati Parbo dan Depati Agung,dengan taktik Perang Gerilya

Belanda mengirimkan   sekitar 1000  orang pasukan dari padang, akan tetapi pasukan ini tak pernah sampai di Kerinci karena berhasil dipukul miundur para pejuang. Namun Belanda tidak pernah berputus  asa,  karena pada tahap berikutnya Belanda meminta bantuan ke daerah Jambi, dan karena pertahanan pejuang di Temiai tidak terlalu kuat  dan tidak terjaga rapi, maka dengan leluasa sekitar1500 orang serdadu Belanda memasuki zona pertempuran di Alam Kerinci yang dipusatkan  di Pulau Tengah,.

Prof.DR.M.Dien Madjid,MA Sejarawan dan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarief Hidayatullah ( Pemakalah Seminar Pahlawan Depati Parbo dalam menghadapi Kolonialisme Belanda: Kerinci: 8- November 2012)  mengemukakan pada tanggal 27 Juli 1903 Pasukan Seksi kedua di tugaskan oleh komandan Ekspedisi Kerinci untuk melakukan patrol ke Dusun Batu Putih,Informasi dari mata mata(Spion)  mengatakan bahwa Dusun Batu Putih merupakan basis perjuangan  dan persembunyian para hulubalang/pejuang  Kerinci. Di daerah ini didirikan benteng dan dijaga dengan kuat berpagar bamboo rapat tinggi dan tebal.

Mendapat info dari mata mata pasukan  seksi kedua mulai bergerak menuju Dusun Batu Putih,Kekuatan rakyat dan para pejuang yang bertahan di Dusun Batu Putih sulit untuk dipatahkan,para pejuang dan rakyat terlatih  merupakan lawan tanding yang tangguh,pertempuran hebat terjadi dan harus dibayar mahal.Pasuakn Patroli bertahan dalam jarring jarring desing peluru yang berasal dari tembakan tembakan yang dilontarkan oleh pejuang Kerinci,pertempiran sengit tidak dapat di elakkan,Pasukan Belanda tidak menyangka akan mendapatkan sajian berupa rentetan dan desingan peluru yang ramai bernyani bagaikan  nada  dan suara lonceng kematian,dan suasana pertempuran sangat mengerikan dan tidak pernah dibayangkan oleh para Serdadu Belanda,Desingan peluru tanpa diketahui dari arah mana di picu  berdesingan,puluhan korban berjatuhan lunglai dijemput sang Malaikat pencabut nyawa,kondisi ini membuat Serdadu Belanda kewalahan dan  sulitmaju menuju Benteng Kerinci.

Kondisi  Bentang Alam Kerinci dan keadaan hutan  yang  keras telah menempa mental dan semangat rakyat dan hulubalang hulubalang alam Kerinci menjadi kesatria yang tangguh dan perkasa,Bagaikan  Harimau lepas dari kandangnya para pejuang dan rakyat menyerang Serdadu Belanda dengan jurus jurus maut yang siap mencengkram  dan mematahkan leher musuh,Kondisi alam yang keras dan menantang menempa kepiawaian mereka  dalam merubah medan laga menjadi berombak ombak debu yang menutupi pandangan mata,kepiawaian rakyat Kerinci dalam memainkan pedang dan  berpencak dalam selubung tirai debu yang menjadi”Benteng Hidup” membungkus tubuhnya/.Ketika pihak lawan lengah,hantaman kearah rusuk,perut dan rahang menjadi kemungkinan yang sulit dielakan.

Berjejer  infanteri seakan hilang akal menghadapi kerasnya  serangan para hulubalang .Walau diantara mereka ada yang berusia renta, namun sama sekali tidak terlihat keringkihannya.Sebaliknya,bab bab jurus yang mereka pertontonkan sangat lihai meliuk liuk bagaikan angin tornado merusak batu karang.Sepuluh Infanteri di gebrak jatuh hanya dengan dua gerak tipu dan tiga sepakan yang terukur yang disertai ilmu tenaga dalam yang tinggi.Beberapa  meter disampingnya,terlihat seorang kakek tua dengan sorot mata tajam,berbaju hitam berikat kepala khas batik melayu,rapat dikepung oleh tiga kavaleri bersenjatakan bayonet.

Logika dangkal mulai merambah nalar dan menganggap bahwa bukan perkara sulit untuk  menyungkurkan seorang pejuang tua,.Namun apa yang terjadi kemudian adalah berputar seperkian derajat.Mengetahui dalam kondisi bahaya,si Nanggut  Baju Hitam mulai mendekapkan tangan sambil menyatukan kelima indra lahirnya.Setelah lawan mendekat,tubuhnya melejit meluncur keatas membuat gerakan putar dengan tangan tertentang dan kaki merapat laiknya bintang berputar.Secepat kilat,ketiga musuhnya terlempar dan terjatuh di rerumputan sekitar palagan akibat terkena jurus itu. Darah segar lansung menyembur dari mulut mereka. Inilah kejelian rampak pencak khas dataran tinggi Kerinci

Hanya karena persenjataan yang tidak seimbang membuat rakyat dan hulubalang hulubalang alam Kerinci tidak bisa optimal dalam menghadapi pertempuran dengan Belanda, untuk  menghindari pertempuran yang tidak seimbang, maka rakyat dan pejuang melakukan perang Gerilya, walau  senjata serba kurang, namun para pejuang tetap berjuang meski dengan taktik gerilya, Komadan Serdadu Belanda tercengang kagum menyaksikan semangat juag dan semangat pantang  kendur  para pejuang Kerinci.

Setelah mendapat laporan bahwa benteng telah sepi,maka pasukan patrol segera memasuki Benteng,Akibat dari pertempuran itu menimbulkan korban dari kedua belah pihak.Didalam benteng terdapat 26 orangKerinci yang gugur,26 senjata senapan di tinggalkan.Dilain pihak Belanda juga mengalami kekalahan.Sejumlah anggota tentara yang gugur dan luka berat,diantaranya yakni tentara pribumi Kopral Sastrodikromo tewas, Kartosemito dengan nomor induk tentara 38570,Wongsowijoyo Nomor induk 48216 mengalami luka berat,Letnan Dua Eropa .H.W.Holmful.tentara pribumi Kartoprawiro dengan nomor induk tentara 54900 mengalami luka  ringan ( ANRI:KI 15 Agustus 1903 Nokor 2263 telegram Komandan Militer Sumatera Barat Ten Broek 29 Juli 19023 Nomor 452 untuk komandan tentara dan kepala stagf Departemen perang di Weltevreden)

Untuk  menghancurkan kekuatan   dan basis pejuang di Pulau Tengah,pihak Kolonial Belanda  harus berpikir  matang mengingat   basis pejuang di Pulau Tengah  merupakan   wilayah pertempuran yang paling tangguh dan paling sulit untuk diduduki oleh  pasukan kolonial Belanda.

Pada tanggal 22 juli 1903 pimpinan Belnda   mengerahkan pasukan untuk melakukan patroli untuk menakut nakuti  masyarakat sekaligus sebagai  isyarat agar   rakyat untuk tidak menentang kehadiran Belanda, Pada tanggal 27 Juli 1903  Belanda  berusaha untuk menduduki Dusun Telago, para  serdadu Belanda  dibekali dengan 108 satuan bayonet, serdadu Belanda  memasuki  Dusun Telago Pulau Tengah melalui Jujun, kehadiran Serdadu Belanda di Dusun Telago mendapat perlawanan sengit dari para  hulubalang hulubalang dan pejuang  Pulau Tengah yang  siap  bertempur hingga  detik nafas terakhir, Serangan  para pejuang  Pulau Tengah datang dari arah benteng batu putih.

Serdadu Belanda yang memiliki peralatan tempur yang modren dengan  sikap nekat berusaha untuk menerobos dan menaklukan Benteng,namun  serdadu Belanda tidak mampu mendekati  benteng yang dipagari oleh tanaman bambu yang rapat,pada saat itu para pejuang  mampu  mematahan serangan  serdadu Belanda.

Letnan Ledeboer dan pasukkannya terus berupaya untuk  mematahkan  serangan dari pertahanan para pejuang di Pulau Tengah, dengan tekat  dan semangat juang yang tinggi para hulubalang dan para pejuang  dengan senjata seadaya  mampu mencerai beraikan  serdadu Belanda, serangan  para pejuang mampu  menggegerkan dan menurunkan semangat para serdadu Belanda ,pasukan Belanda  dibuat lari tungang  langggang sebagian  dari serdau Belanda  diperitahkan untuk  memberikan pertolngan dan  mengangkat serdadu Belanda yang terluka  dan mundur  menjaihi benteng pertahanan para pejuang Pulau Tengah, dibandingkan dengan  benteg benteng pertahanan yang pernah di gempur oleh Belanda , maka Benteng Pertahanan di Pulau Tengah lah yang paling sulit untuk ditembus.

Diantara  Serdadu Belanda yang  melakukan gempuran ke Pulau Tengah tercatat nama nama prajurit Belanda bernama Trunggelar,Kretzer,Kooijeman dan  sersan knoop seorag serdau artileri  yang merupakan  serdadu jago tembak ,para prajurit ini  dibawah komando Gramwinkel, para serdadu ini  dibantu sersan Schelpbach yang menyiapkan amunisi  dengan  nekat  melakukan serangan dan melakukan  penembakan di wilayah pertahanan para pejuang

Lentan Ledeboer  berhasil membuka pagar benteng pertahanan dengan dilindungi para serdadunya dibawah komando Veltman, para hulubalang  Pulau Tengah tidak tinggal diam tembahan senjata serderhana dan lemparan batu menyambut  pasukan Belanda, pertempuran berlansung sengit, namun karena  persenjataan yang tidak seimbang kekuatan  pejuang  dapat dipatahkan, dan akhirnya  serdadu Belanda  berhasil  memasuki dusun, kedatangan  serdadu belanda di dalam dusun disambut dingin masyarakat yang tidak mengungsi, kaum wanita,anak anak dengan sikap siaga  menyambut serdadu Belanda dengan Klewang  siap utuk melakukan serangan, dengan sikap tempur wanita dan anak anak menghadapi serdadu Belanda  yang berkekuatan besar dan persenjataan modren.

Dengan tanpa rasa perikemanusiaan serdadu Belanda dipimpin Ledober melakukan penembakan dan membakar dusun,tindakan  semena pasukan Belanda itu  menimbulkan ratusan korban wanita,anak anak dan  para manula, dan tindaan membabibuta yang dilakukan oleh Pasukan Ledober   sempat dicegah oleh Kapten Van  der Mollen, pada peristiwa pembakaran itu  merusak dan menghanguskan rumah rumah masyarakat,seluruh  rumah di dusun itu terbakar,hanya Masjid yang selamat dari peristiwa pembakaran.

Peristwa Pembakaaran yang meluluhlantakkan dan menghanguskan pemukiman masyarakat di Dusun itu membuat suasna begitu sangat mengharukan, ratuusan  mayat menghitam legam hangus terbakar api, sebagaian masyarakat yang bersembunyi di bunker dalam tanah dibawah rumah rumah berlarik hangus terbakar, dengan peristiwa pembakaran itu pertempuran   berangsur berhenti,rakyat se alam Kerinci  yang mendengar peristiwa  itu sangat berduka , langit diatas bumi kerinci terlihat murung, para hulubalang dan pejuang  seperti tidak percaya dan  lemas  melihat tindakan biadab yang dilakukan oleh  serdadu Belanda yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.

Korban yang selama sebagian besar tidak memiliki tempat tinggal ditampung di  dusun dusun disekitar lokasi, sebuah catatan  menunjukkan Belanda  menurunkan pasukan tempur  besar dengan menghabiskan 31880 Mesiu,150 senjata api,84 granat,63 granat lempar kaliber  2 K.

Melihat fakta,data sejarah dn hasil wawancara  penulis dengan sejumlah tokoh ,penulis  menyarankan  agar Pemerintah  Kabupaten Kerinci, Pemerintah Kota Sungai Penuh dan  Pemerintah Propinsi Jambi untuk mengusulkan  lebih dari satu orang Pahlawan,disamping mengusulkan Depati Parbo sebagai Pahlawan Nasional, sebaiknya perlu di pertimbangkan untuk  mengusulkan secara bersama  pejuang yang lain  seperti Bilal Sengak, H.Ismail. H.Bakri Depati Simpan Negeri, M.Judah  Gelar Depati Santiudo Pamuncak Alam, H.Sultan,Depati Gayur,H.Siam  Gelar Depati Atur Bumi, H.Syukur H.Mat Serak, Hj.Fatimah,  sebagai pahlawan Nasional, hal ini untuk  mengakhiri polemik tak berkesudahan tentang  siapa pahlawan Nasional asal alam Kerinci yang sebenarnya? ( Budhi.VJ dari berbagai sumber)


Selasa, 11 Februari 2014


Siyak Lengih Pengembang Islam di Alam Kerinci 

Siyak Lengih Pengembang Islam di Alam Kerinci Siyak Lengih Pengembang Islam di Alam Kerinci
Alam Kerinci merupakan salah satu daerah di nusantara yang kehidupan masyarakatnya tidak dapat dipisahkan dari Islam, Bagi masyarakat asli suku Kerinci ”menjadi orang suku Kerinci, berarti ia adalah seorang muslim (Islam)”.
Jika ada orang suku Kerinci yang tidak memeluk agama Islam, atau keluar dari agama Islam misalnya, maka secara sosial mereka akan dikucilkan, setidaknya kehadiran mereka dianggap tidak pernah ada, mereka ada namun dianggap tiada, dengan demikian, dari waktu ke waktu suku Kerinci terus berusaha menyesuaikan adat dan tradisi kemasyarakatan dengan Islam
Fakta Sejarah menyebutkan Siak Lengih masuk kealam Kerinci sekitar abad ke 13/14, berasal dari Basa Nan Ampek ( tuanku nan tuo di Suraaso – Padang Gantiang – Padang Panjang). Siak Lengih memiliki  2 orang Istri  yakni : Puti Gento Syuri dan  Dayang Baranai( Berani)
Dari istri  pertama, Siak Lengih dikaruniai seorang putri yang bernama ”Ratu Berembok Syuri”. Ratu berembok Syuri menikah dengan Depati Pangga Tuo dari tanah Semurup dan dikaruniai 3 orang masing  masing adalah : Rambi Seti Dandan Merah, gelar Ngabi Tunggu Umah – Tunggu Mendapo, Kademang Pagawe Rajo  Sungai Penuh, istrinya bernama Rabiah, Rio Jayo bertombak belang Berjanggut Jenggi, Istrinya bernama Pandan
Dari Istri keduanya Dayang Baranai, Siak Lengih  dianugerahi 9 orang putra-putri yakni : Jang Hari atau Siak Mangkudun ( Pria), Djang Hangsi ( Pria), Hana Hoekir (Wanita), Hana Hada (Wanita), Hana Koening ( Wanita ), Hana Tjoepa (Wanita), Hana Boekat (Wanita), Hana Dayang (Wanita), Hana Madjit (Wanita) Masing masing mewariskan kerurunan sebagai berikut:
Hajang Hari atau Jang hari di Pondok Tinggi yang mewariskan: Depati Santi Udo, Depati Sungai Penuh,Depati Pahlawan Negaro dan Depati Payung. Hajang Hangsi di Dusun Baru Batang Bungkal mewariskan keturunan: Depati Simpan Negeri, Depati Alam Negeri dan  Depati Sekarta Negaro
Handir Bingin, Istri Depati Rio Dagu, di Sungai Liuk mewariskan: Depati Ular, Patih Mediri atau Rio Mendiho,Handir Landun. Handir Cayo, mewariskan: Handir Bulan dan Bujang Paniyam (Peniang).Handir Ukir.Handir  Madjit. Handir Tjoepa Istri Depati Semurup Pangga Tuo, mewariskan : Rio Jayo Panjang rambut.Handir Kuning.Handir Hada
Dalam Tambo yang berada di beberapa dusun di alam Kerinci tersebut nama Siyak Lengih , nama lain dari Siyak LengSiak-Lengihih  ialah Syeh Samilullah, Malin Sabiyatullah atau Makuhun Sati di Koto Pandang Sungai Penuh yang dianggap nenek moyang dari beberapa dusun. Semua  putra-putri  beliau menyebar di beberapa dusun, dan putri  putri  beliau menikah dengan pemuka masyarakat di dusun dusun tersebut.
Sebelumnya  di  dusun dusun tersebut telah ada penduduk asli yang telah memiliki kebudayaan paleotikum, nelotlikum, megalitihikum dan perunggu, bukti sejarah menunjukkan di dusun dusun tersebut banyak ditemukan benda benda peninggalan antara lain bejana perunggu, manik manik, arca perunggu .dll.
Dalam Tambo disebutkan istri Siyak Lengih bernama Dayang Baranai, berasal dari Pagaruyung, Dayang Baranai adalah kakak sulung dari  Perpatih Nan Sebatang,  ketiga orang bersaudara tersebut ialah Dayang Baranai (Puti Rino jadi ) yang kedua adalah Putri Unduk Pinang Selaras Pinang Masak (Puti Rino Mandi) dan yang bungsu adalah Perpatih Nan Sebatang, dalam perjalan hidupnya  Puti Unduk Pinang Masak menikah dengan Datuk Paduko Berhalo, seorang Raja Jambi yang bijaksana ( berasal dari Turki).
Dengan demikian tergambar jelas bahwa Siyak Lengih adalah kakak Ipar dari Datuk Perpatih Nan Sebatang dan kakak ipar dari Datuk Paduko Berhalo. Dari hasil pernikahan Puti Unduk Selaras Pinang Masak dengan Datuk Paduko Berhalo menurunkan  empat orang  anak yaitu  Orang Kayo Hitam, Orang Kayo Kedataran, Orang Kayo Pinggai dan Orang kayo  Gemuk
Jejak dakwah Siyak Lengih hingga saat ini masih terdapat di atas bukit kecil di kawasan  Koto Pandang  Sungai Penuh, Jirat yang berbentuk makam telah dilakukan pemugaran oleh Pemerintah, dan hingga saat ini  jirat  pemakaman Siyak Lengih masih menjadi situs kebudayaan Kota Sungai Penuh dan menjadi wisata sejarah  yang di ziarahi oleh masyarakat
Syekh Syamilullah atau populer di sebut Siak Lengih dikenal dan dikenang masyarakat Kota Sungai Penuh sebagai sosok ulama besar yang telah menyebar luaskan agama Islam di Sungai PenuhAlam-Kerinci-Siyak-Lengih
dan di alam Kerinci umumnya, diantara silsilah keturunan beliau sampai ke Depati (Kiyai) Nan Bertujuh, sehingga jika ada  acara Kerapatan adat di Hamparan Besar Tanah Rawang, maka Depati  Nan Bertujuh ini dipanggil  Kiyai nan Batujuh ( Kiyai yang bertujuh)
Dan Kiyai Nan Bertujuh ( Depati Yang Bertujuh) dikenal dengan sebutan ” Suluh Bindang Alam Kincai” terjemahan secara bebas adalah orang yang telah berperan besar dalam memberikan penerangan dan pencerahan peradaban bagi masyarakat se alam Kerinci  dengan  menyebarkan agama Islam dan memberikan petunjuk dan hukum hukum Syarak. Sehingga pada awalnya adat Kerinci  sebelumnya berdasarkan ”Alur dan Patut ” berubah menjadi Adat yang berdasarkan Syariat, dan sejak masa  itu dikenal istilah “ Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah, Syarak  mengato, adat  memakai”.
Depati. Marlis Mukhtar mengemukakan, Al Qur’an Maha Karya Siyak Lengih di tulis dengan tulisan tangan Siyak Lengih diberi nama Al  Qur’an “ Merdu Bulan” dalam tafsir adat Kerinci, kata  Merdu bermakna  Indah, sedangkan Bulan bermakna Lembut. Dan hingga saat ini peninggalan bersejarah tersebut masih disimpan dan dirawat  di rumah Gedang Luhah Datuk Singarapi Putih-Sungai Penuh.
Catatan Depati. Marlis Mukhtar  ( Ketua LAD  Sungai Penuh :21:1:2012) dan Depati. H.Alimin mengungkapkan bahwa perkembangan agama Islam berjalan pesat, kegiatan dakwah berlansung secara damai, melalui pendekatan kearifan lokal Siyak Lengih dan generasi generasi penerus mampu melaksanakan dakwah tanpa melakukan benturan benturan dengan adat dan tradisi yang telah lebih dahulu berkembang, pada kenyataannya kegiaatan dakwah berjalan  secara humanis, beradat dan beradab.
Kedatangan agama Islam di alam Kerinci, membawa pengaruh besar dalam perkembangan adat dan kebudayaan di alam Kerinci, terjadi asimilasi antara  ajaran  agama Islam dengan adat dan Kebudayaan yang selama ribuan tahun dipedomani oleh penduduk asli alam Kerinci, setelah di kaji dan di undang terjadilah  percampuran antara hukum agama Islam dan hukum adat, segala yang bertentangan dengan hukum agama Islam ditinggalkan, dari percampuran tersebut melahirkan seloko / motto yang  dipedomani bersama yakni “Adat yang bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah “ Motto tersebut hingga saat ini dan akhir zaman tetap menjadi pedoman.
Disamping keputusan diatas, juga diambil sebuah kesimpulan yakni Anak cucu dari Siyak Lengih, yaitu Depati Nan Bertujuh, sebagai pegawai Rajo, Pegawai  Jenang yang di juluki ” Suluh Bindang Alam Kerinci”, hal ini dengan alasan Nenek Siyak Lengih diyakini sebagai orang pertama yang mengembangkan agama Islam di Kerinci, Kepada Depati Nan Bertujuh inilah tempat orang bertanya mengenai agama Islam
Dampak positif  dari  pertemuan Sitinjau Laut tersebut, maka ketiga daerah itu yakni Kerinci, Jambi dan Minangkabau menjadi damai dan tenteram, dan hingga saat ini piagam hasil perdamaian tersebut masih dipegang teguh dan menjadi pedoman bagi ketiga wilayah adat dan pemerintahan didaerah tersebut.(Budhi Vrihaspathi Jauhari)
Oleh: Agung Muhamad Reza 

Jumat, 10 Januari 2014

Galeri Sejarah Kerinci

Rencana Malaysia membangun Museum Sejarah Kerinci di Kampong Kerinchi, Kuala Lumpur, telah menyentak pihak-pihak di Indonesia, termasuk media massa. Mereka menyatakan keprihatinan bahwa budaya dan benda-benda bersejarah milik masyarakat Kabupaten Kerinci, Propinsi Jambi, akan berpindah ke Malaysia. Mereka juga  kuatir bahwa peradaban Kerinci yang juga merupakan budaya asli Melayu, nantinya akan diklaim sebagai milik Malaysia.
Terdapat laporan dari pihak-pihak tertentu bahwa oknum-oknum dari Kabupaten Kerinci sedang berupaya
membawa benda-benda bersejarah tersebut, termasuk naskah-naskah Kuno ke Malaysia untuk dipamerkan. Ada tuduhan sebagian benda-benda yang disebut “pusako” tersebut akan dijual. Tak lepas Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia juga bak kebakaran jenggot dan meminta Gubernur Jambi dan Bupati Kabupaten Kerinci untuk menjelaskan permasalahan mengapa akan ada Museum Kerinci di Malaysia.

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, khususnya  Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya, segera bertindak cepat dengan memanggil Bupati Kerinci dan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kerinci untuk menjelaskannya. Pemanggilan dilakukan mengingat keduanya sedang berada di Malaysia, tepatnya di Negeri Melaka dalam rangka menghadiri Festival Gendang Nusantara. Dari penjelasan disampaikan bahwa mereka mengaku tidak ada niat sama sekali untuk meminjamkan atau menjual barang-barang yang dianggap “pusako” di Kerinci. Rencana pendirian Museum hanya untuk memenuhi permintaan orang-orang Kerinci yang ada di Malaysia. Isi museum nantinya adalah baju daerah, alat-alat pertanian, alat penangkap ikan dan belut, hasil kerajinan penduduk setempat, foto-foto pariwisata Kerinci dan barang-barang yang mudah ditemui dan dibeli di pasaran. Mereka sadar bahwa hal yang salah apabila membawa barang-barang bersejarah dari Indonesia ke luar   negeri. Ditambahkan bahwa nantinya namanya bukan lagi museum, tetapi Galeri Sejarah Kerinci. Ditekankan bahwa permintaan adanya galeri tersebut berasal dari masyarakat asal Kerinci sendiri untuk mengenang daerah asal orangtua, kakek dan nenek moyangnya agar mereka tidak melupakannya.
Akhirnya pada hari Senin, tanggal 18 April 2011, sekitar pukul 11.30, Galeri Sejarah Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) Sri Pantai, Kampong Kerinchi, Kuala Lumpur, Malaysia, dan bukan lagi Galeri Sejarah Kerinci ataupun Museum Kerinci, diresmikan oleh Kepala Museum Negara Malaysia, Dato Ibrahim Bin Ismail. Turut hadir dalam peresmian tersebut Bupati Kabupaten Kerinci, Murasman, Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI KL, Suryana Sastradiredja, SLO Polisi KBRI KL Benny Iskandar, dua anggota Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Indonesia dari daerah Jambi dan Sumatera Utara dan undangan lainnya dari Kabupaten Kerinci dan Malaysia, termasuk para wartawan dari Kantor Berita Antara, Tempo, Tribun Indonesia dan Kompas serta wartawan Malaysia.
Sebelum acara peresmian, rombongan disambut tarian-tarian dari anak-anak SMK dan lambaian bendera merah putih dan bendera Malaysia. Sedangkan dalam pertunjukkan di panggung dipentaskan tarian dari pihak SMK Sri Pantai dan Tim Kesenian Kabupaten Kerinci, Jambi. Pada kesempatan meninjau isi galeri, terdapat poster-poster yang menunjukkan sejarah kontribusi dari masyarakat asal Kerinci, Jambi, dalam pembangunan kota Kuala Lumpur; sejarah dan foto-foto dari Abdullah Hukum yang asal Kerinci, beserta keluarga dan silsilah keluarganya hingga keturunan ke-5, foto-foto gedung, stasiun atau tempat-tempat yang menggunakan nama Abdullah Hukum. Dalam galeri terdapat juga beberapa pajangan berupa foto-foto Kabupaten Kerinci dan obyek wisatanya, foto Bupati dan keluarganya; barang-barang yang digunakan di Kerinci seperti parang panjang dan pendek, alat penangkap belut, hasil kerajinan dari kayu dan rotan serta sepasang baju adat yang dipasangkan pada boneka laki-laki dan perempuan.
Dalam pesan-pesannya, baik pihak Malaysia maupun Indonesia menyampaikan inti dari adanya Galeri tersebut adalah: (i) mengingatkan tentang sejarah terbentuknya Kampung Kerinchi dan kontribusi orang-orang asal Kerinci, Sumatera, khususnya sumbangsih Abdullah Hukum yang berjasa besar ikut membangun kota Kuala Lumpur; (ii)  sebagai bahan pengetahuan dan rujukan bagi penduduk Kampong Kerinchi, pelajar SMK Sri Pantai dan para pendidik mengenai sejarah pembentukan SMK Kampong Kerinchi: (iii) guna melestarikan adat dan budaya dari Kerinci serta mengekalkan hubungan bersaudara antara Malaysia dengan Indonesia; (iv) merupakan ajang promosi  untuk mengunjungi Kabupaten Kerinci.
Terlepas apakah memang ada niat atau tidak dari oknum untuk membawa, meminjamkan atau menjual barang-barang pusako Kerinci kepada pihak Malaysia, Suryana Sastradiredja sebagai Koordinator Pensosbud KBRI KL telah mengingatkan agar pihak Kabupaten Kerinci tidak bermain-main dengan barang-barang peninggalan sejarah dan hal peristiwa ini juga dapat menjadi pelajaran bagi daerah-daerah lain untuk tetap dapat menjaga barang-barang peninggalan dan barang-barang “pusako” yang sangat berharga untuk masa depan anak-cucu (SS).

Sabtu, 14 Desember 2013

10 Pemuda Tebing Tinggi Yang Hilang Ditemukan,4 orang Dirawat

10 pemuda asal Tebing Tinggi Sulak Mukai, Kabupaten Kerinci yang hilang sejak Kamis (12/12) dan semuanya berstatus pelajar SMA dan SMP ditemukan.
Informasi yang dihimpun bahwa ke 10 pemuda tersebut ditemukan di dua kelompok di tempat yang berbeda dimana kelompok pertama terdiri dari 4 orang ditemukan jam 09.00 jumat 13/12 disunfgai langkap 2 jam berjalan kaki dari perladangan, Kelompok yang kedua terdiri dari 6 orang ditemukan di sungai bukit pendung.
Berikut nama – nama pemuda tersebut, deyang (15), kelas  1 SMA 4 Kerinci, yowan (16) kelas 1 SMA 4 Kerinci, Boga (14) Kelsa 2 MTSN Siulak, Panji (16) kelas 1 SMA 4, lando (15) kelas 1 SMA 4 Kerinci, Widio (14) kelas 2 SMP 5 kerinci, Govin (16) kelas 1 SMA 4 kerinci, Defra (16) kelas 1 SMA 4 kerinci, Rosi (13) kelsa 1 SMP 5 kerinci, dan Nanda (16) kelas 1 SMA 4 Kerinci.
Informasi yang didapat dari koordinator tim sar Hendra didampingi anggotanya Safrudin, Dpt menjelaskan bahwa mereka ingin ke air Terjun Mukai Pintu. Hingga malam tadi pencarian yang dilakukan tim SAR belum membuahkan hasil. Namun sekitar pukul 09.00 wib baru membuahkan hasil dari pencarian tim sar, sebanyak 4 orang ditemukan, semnetar enam orang lainnya ditemukan sekitar jam 15.00 wib tadi sore.
Proses pencarian cukup sulit sebab komunikasi yang dilakukan lewat handphone kepada 10 pemuda itu tidak berhasil. Soalnya, sinyal komunikasi lewat handphone terputus. “kami sempat kesulitan mencari, namun berkat kerja keras tim sar semua, akhirnya kami berhasil menemukan 10 orang tersebut dengan selamat, namun 4 orang yang keadaannya lemas di rawat di rumah sakit umum sungai penuh” ungkap Hendara didampingi Safrudin tim sar